100 Tahun Setelah Aku Mati ( Bagian 42 Obrolan Singkat )



saya terbangun saat ayam di pekarangan panti itu berkokok..
hmmm terasa selruh badan ini pegal dengan sendi yang terasa kaku.. tampaknya ini akibat dari akumulasi rasa capek setelah perjalanan jauh… saya sedikit melakukan peregangan diatas kasur sambil menyaut jam tangan yang kuletakan didekat bantal.. 04.15 pagi… saya segera mengganti kaos yang saya kenakan dengan pakaian yang lebih layak untuk sholat subuh.. selepas sholat saya hanya berbaring diatas sajadah yang saya gunakan sebagai alat sholat.. badan yang masih capek membuat saya masih enggan keluar kamar, layar hp tidak menunjukan notifikasi apapun, tampaknya risa juga kecapean dan mungkin belum bangun, karena biasanya risa lah yang selalu lebih awal bangun dari pada saya.. klekk saya memutar hendel pintu itu dan mencari risa, semalam dia pamit untuk tidur bersama anak2 panti…



“risa di kamar putri zal”
dewi menyapaku saat saya melewati dapur, dia sedang membuat beberapa cangkir teh dan 2 toples keripik singkong.
saya : “dia udah bangun belom wi?”
dewi : “kamu check aja, dia semaleman hampir gak tidur”
saya :”loh kenapa kok sampe gak tidur??”
dewi :”semalem ada anak yang sakit zal, mutah2 sama demam, aku sama risa berusaha ngurangin demamnya, semalem juga udah aku minta buat pindah kamar kalo mau istirahat, tapi dia milih nemenin”
saya :”kok aku gak dikasi tau? siapa tau bisa bantuin”
dewi :”ahhh kamu udah tidur zal, keliatan capek jadi risa gak tega bangunin kamu.
saya :”oke wi, boleh masuk kamarnya?”
dewi hanya mengangguk dan seperti biasa selalu muncul senyum cantiknya disetiap kesempatan,dewi memberikan arahan letak kamar dimana risa istirahat..
saya berlalu dan masuk disebuah kamar yang ternyata tidak dikunci,
dan begitu masuk saya melihat sekitar sepuluh anak perempuan berumur 5-10 tahunan, ruangan yang tidak seberapa besar itu diisi anak sebanyak ini?? saya bergumam dalam hati,
saya menelisik satu persatu kasur yang ada disitu dan melihat sosok risa yang masih tertidur bersanding dengan seorang anak yang saya taksir berusia 6-7 tahun. sebuah kompres masih menempel di kepala anak yang sedang tertidur pulas itu, dan disebelahnya risa tidur dalam posisi miring sambil memeluk anak yang saya tidak tau siapa namanya.
“namanya Aksa zal, dia dari bogor”
dewi mengaggetkanku, baru saja saya membatin, dewi seperti tau apa yang ada dibenaku.
saya :”aksa ini apa juga yatim piatu?”
dewi hanya menggeleng
“bapaknya pergi gak tau kemana sedangkan ibunya…. mungkin juga bukan ibu yang baik sampe tega ninnggalin aksa disini, dan kerabatnya juga tidak mampu merawat aksa”
saya tertegun sejenak, orangtua macam apa itu? 
saya berjlan perlahan agar tidak membangunkan anak2 karena memang hari masih sangat pagi, 
tampak risa tertidur dengan pulas, tanganya memeluk aksa, seolah risa ini adalah seorang ibu yang sedang menunggui anaknya yang sedang saki, terbesit dmemoriku yang samar2 saya seperti kembali kemasa lalu.
risa mengingataknku kepada almarhum Ibu. yaa,, saya memang jarang sakit tapi ada satu ingatan dimana saya masih berumur 4-5 tahun saat sakit demam tinggi dan ibuk menungguiku persis seperti yang risa lakukan hari ini.
saya menyentuh kening aksa, panasnya sudah normal. “alhamdulillah” ucapku pelan.
saya menyibakan rambut risa yang tergerai dan mendekatkan bibirku ke telinga risa.
“nduk bangun dulu, sholat subuh “
tak butuh waktu lama risa membuka mata, masih teringat jelas bahkan sampai saya menulis ini, hal pertama yang dilakukan saat dia membuka mata adalah tersenyum… senyum yang sangat menawan, selama beberapa saat hati saya terasa terenyuh dengan hal yang sederhana itu, waktu yang singkat itu membuat pikiran saya melambung dan memaksaku mengajukan permintaan kepada Tuhan, semoga senyum ini yang akan selalu kulihat tiap bangun di pagi hari..
“mas 😊 ” ucapnya dengan suara serak khas orang bangun pagi,
secara spontan perhatian risa berpaling kearah aksa, dia mengambil kompres yang masih menempel di kening aksa sambil memeriksa suhu tubuhnya.
“ahh alhamdulillah” ucapnya yang masih dengan senyum di wajahnya.
Saya :”aksa udah gapapa kok, keluar dulu yuk, kamu belum sembahyang kan?”
risa mengangguk dan beranjak pelan, sambil menggandeng tanganku kami berjalan menuju ruangan kami..



pagi itu saya hanya berada dikamar, sepertinya kondisi badan saya yang menuntut untuk istirahat lebih lama, sedangkan risa.. entah kemana dia, setelah subuh dia sudah tidak terlihat mungkin menengok keadaan aksa atau sedang bermain dengan anak2 lain.
sampai menjelang siang risa kembali keruangan, raut wajahnya tidak seperti biasa, saya menayakan ada apa, tapi jawaban risa selalu bilang “gapapa” . saya kira ini adalah penyakit cewek, ketikacowok tanya kenapa, jawaban semua cewek itu sama “gapapa”, padahall raut wajahnya menunjukan bahwa dia sedang ada apa apa 😉 
sikap risa yang aneh berlanjut sampai malam hari, saya malah bingung sendiri dengan perubahan sikapnya.
sampai sekitar pukul 20.00 saya mengajak risa berbicara.


saya : “nduk kamu kenapa?, boleh cerita?? “
risa :”hemmmm… cuma mikir sesuatu aja mas”
saya :”boleh aku tau? “
risa menghela nafas panjang,
“aku bingung aja mas, sama orantua atau sodara2 dari anak2 yang tinggal disini.. menurutku aneh, walaupu memang sebagian besar dari mereka disini itu yatim piatu tapi beberapa kasus dari mereka ada yang ditelantarkan gitu aja saama orangtua mereka, aku heran aja kok ada yang tega kayak gitu,bahkan binatang kayak buaya aja bakal njaga anaknya sampe bisa cari makan sendiri, lha ini manusia kok gitu, beneran mas aku gak habis pikir… kadang aku ngebayangin kalo aku udah jadi ibu, aku gak akan biarin anaku begini, aku bakal bawa dia kemanapun, sesulit apapun itu, atau mungkin hidupku besok juga susah, aku sebisa mungkin bakal ngrawat anaku sendiri, ahhh mas kamu bikin aku tambah sebel deh 😱 “
saya hanya diam, sesekali tersenyum mendengar jawaban risa…

“yaa nduk, akupun berpikir demikian, walaupun aku juga yatim piatu, tapi kedua orangtuaku sangat… sangat.. dan sangat care sama aku. tadi aku juga mikir seandainya aku jadi seorang bapak …. semoga aku bisa jadi bapak seperti almarhum bapaku yang bertanggung jawab untuk istri dan anaknya. aku beberapa kali menghayal tentang masa depan, setelah cita2ku jadi dokter tercapai kemudian apalagi??
aku harus punya cita2 keduaku, dan aku berdoa semoga kamu menjadi sekuel kedua dari impianku nduk..
aku gak bisa jamin kalau kita adalah jodoh, aku cuma bisa berusaha menyiapkan dan memperbaiki diri, agar kamu menjadi lanjutan kisah hidupku. bertahun-tahun bersamamu membuat aku yakin nduk..
kamu akan jadi Ibu yang baik”


Sumber Kaskus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosial Media Terbaik
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Follow Me
Profil Fafa Media di Instagram
Profil Fafa Media di Instagram

Artikel Terbaru