100 Tahun Setelah Aku Mati ( Bagian 40 Teka Teki )



“kerajaan sekarang terpecah oleh edeologi dan ego dari masing2 pewaris kekuasaan, mereka berlomba untuk meluaskan wilayah masing2 sampai mereka lupa dengan rakyat”
saya :”lalu apa yang kamu lakukan?, bukanya kamu adalah penguasa?”
raden :”saya hanyalah adipati disebuah kadpaten di wilayah pegunungan, segala macam cara sudah saya lakukan untuk mencegah ini semua, tapi nihil, suara saya tidak akan terdengar karena saya hanyalah keturunan sudra”
saya :”sebenarya apa yang mau kamu katakan?”
raden :”sebentar lagi kamu akan tau, sebaiknya siapkan dirimu”
…..



scene berpindah lagi,waktu berjalan normal ketika bangunan2 itu telah terbakar dan roboh, pure2 yang hancur dan warga kampung yang sekarang sudah dikumpulkan di tanah lapang..
dan.. raden tidak berada didekatku, dia berada didepan krumunan warga sambil berlutut, didepanya seorang pemuda berdiri tegap sambil berkacak pinggang
suara riuh warga yang seolah ketakutan membuat saya tidak bisa mendengar suara raden dan orang didepanya, saya berlari menghampirinya, dikanan kiri terlihat prajurit yang berjaga,
prajurit2 itu berbeda dengan prajurit yang sebelumnya, mereka menggunakan pakaian berwarna coklat, masing2 dari mereka membawa galah setingi 1,5 meter dengan ujung besi runcing..
mata saya menangkap kepulan asap hitam di balik beberapa prajurit itu, mereka seperti membakar sesuatu, entahlah apa itu, tapi saya meilhat potonga tubuh manusia diantara tumpukan benda terbakar itu, yang kini memunculkan aroma daging yang terpanggang..
saya sempat tertegun melihatnya, ternyata yang dibakar adalah mayat dari prajurit yang sebelumnya saya lihat bertugas membawa bahan makanan tadi, saya sebisa mungkin menyadarkan diri bahwa ini hanyalah ilusi, ini hanyalah gambaran dari masalalu..
saya berlari lagi kearah raden yang berada di tengah lapangan bersama mungkin sekitar 200 orang warga..
..

cleng.. cleenggg
2 bilah pedang kecil dimainkan oleh seseorang, raden sama sekali tidak bergerak, dia hanya duduk tersimpuh.. saya semakin mendekat, sampai dengan jelas saya dapat melihat tanganya terikat tali rotan..
sorang lagi yang hanya berkacak pinggang dari tadi kini mulai terdengar pembicaraanya, walaupun sama sekali saya tidak mengerti apa maksudnya, tapi tampak betul kalau dia tidak senang, dia tampak marah kepada raden
suara tangis anak kecil dan wanita bergemuruh, saya tidak melihat pemuda disini, di kampung ini isinya hanya wanita dan manula, beberapa laki2 dewasa tampak tidak sehat dengan wajah pucat dan anggota tubuh yang cacat..
ada apa ini??
kepala raden dimasukan kedalam sebuah pasung kayu secara paksa, sebuah mahkota kecil yang menghiasi kepala raden diambil, rambut pancangnya dipotong dengan pisau kecil hingga nyaris gundul,
degan perlakuan kasar seorang bertubuh tambun itu memptpng rambut raden hingga membuat kepalanya berdarah2 terkena sayatan pisau..
apa yang saya lakukan? saya sama sekali tidak bisa berbuat apa2, karena percuma. ini semua hanya memori dari masalalu yang diputar kembali, saya hanya diam sambil melihat untuk mencari sebuah kesimpulan.
telinga saya sam[ai sakit mendengar jeritan minta ampun dari warga kampuung itu, mereka terlihat mengiba,saya menoleh kearah mereka yang ternyata juga terikat tali rotan persis seperti raden..
bahkan anak2 juga diperlakukan demikian, suara anak yang menangis memanggil ibunya, dan suara ibu yang menjerit menahan tangis memanggil anaknya..
didepan mereka terlihat pemimpin mereka bersimpuh dan diperlakukan seperti binatang, pasti mereka sangat ketakutan.
..
..
suasana semakin riuh saat seorang yang mirip algojo itu mengarahkan pisau kekepala raden, suara jeritan histeris para wanita disana terdengar begitu nyaring, beberapa diantara mereka bahkan sampai menangis ketika melihat kedua telinga raden terpotong,
siksaan kejam lainya yang diterima raden membuat saya merasa ngeri, saya tidak bisa melakukan apapum, teriak pun saya sudah tidak bisa lagi, saya hanya bisa menutup mata ketika pisau yang berlumuran darah itu mulai menyentuh leher raden.
“astaghfirullah” hanya itu yang bisa terucap berulangkali dari mulutku, jeritan dan tangisan semakin lama semakin keras, dan memaksa saya membuka mata, dan begitu kedua mata saya terbuka saya melihat 2 orang raden,
satu orang sosok raden yang masih sehat, dan seorang raden lagi yang terbaring bersimbah darah di didepan orang2 yang berkerumun itu..
.
saya :”apa yang sebenarnya…..”
raden :”memberontak, saya terlalu banyak membangkang, saya menolak memberikan jumlah upeti yang harus disetorkan, dan inilah akibatnya, saya harus
yang harus saya terima”
raden menunjuk ke kerumunan warga, mereka… mereka.!!! ahh saya terlalu takut menceritakanya, mereka medapat perlakuan seperti binatang, disiksa, bahkan anak2pun mendapat siksaan yang mengerikan.
prajurit2 yang berada di tengah lapangan berjalan menjauh dan sekitar 3 pelton prajurit ain yang membawa busur dan anak panah mulai berjajar di pinggir lapangan.
clashhhh!!! anak panah itu meluncur dari busur dan mengenai perut seorang anak yang mungkin baru berumur 5 tahun!!, diikuti anak panah lain yang berhamburan mengenai anggota tubuh dari masing2 warga..
saya menatap kearah raden
“kenapa??, kenapa kamu menunjukan ini?”
raden tidak menjawab, dia kembali menunjukan jarinya kearah pembunuhan masal itu, setelah semua anak panah diluncurkan, puluhan prajurit lain yang membawa tali memeriksa setiap tubuh yang berlumuran darah itu, bau amis dan anyir dari darah yang tergenang membuat saya mual.
mereka menemukan 19 orang selamat dan mengalungkan tali ke leher mereka, orang2 itu meronta ketakutan, dan melakukan perlawanan yang percuma, mereka disiret dengan seutas tali yang melilit leher mereka,
dan beberapa prajurit melemparkan tali ke sebuah pohon yang sangat besar.. pohon yang familiar, dan benar saja pohon itu adalah pohon yang sama seperti pohon yang berdiri di samping kamar hotel saya menginap..
19 orang, terdiri dari 10 orang wanita, 5 orang manula dan 4 orang anak2, mereka digantung hidup2!!
beberapa prajurit lain mulai menggotong mayat2 lain yang mungkin diantara tumpukan mayat itu masih ada yang selamat, mereka menaruh jerami dan cairan hitam seperti minya, seseorang yang membawa obor mulai menyulutnya dan…
bufff api berkobar dengan besarnya, saya mendengar jeritan minta tolong dari beberapa orang yang ternyata masih hidup, segera saja bau sangit dari rambut yang terbakar dan bau daging dan darah yang terpanggang masuk ke hidungku,,
saya melihat beberapa prajurit menggotong tubuh raden yang sudah hampir tidak bernyawa dilempar ke bara api yang memanas…
ngerii,, menakutkan.. pembantaian manusia pertama yang saya lihat, walaupun ini hanya memori dari masa lalu, tetap saja akan membuat kalian mengompol jika melihatnya.
kenapa mereka melakukanya?? apakah ini wajah kerajaan nusantara di masa lalu??, penuh kekejaman?, hanya karena wilayah, hanya karena pajak, nyawa manusia yang harusnya dilindungi bahkan tidak ada harganya..
“kerajaan galuh, dan kerajaan kami kalah perang, para petinggi kerajaan mengatakan bahwa kekalahan terjadi karena perbekalan yang kurang, hingga kami harus dihukum seperti ini, mereka menganggap bahwa kami tidak memberi upeti yang ditetapkan”
raden mulai berbicara padaku dengan nada bergetar, matanya mulai berkaca-kaca.
“semua sudah digariskan, kamu adalah anak emas, kami menunjukan ini agar kamu bisa mengambil manfaat, kami bukan jin hitam, kami hanya ingin mengajarai rasa sakit dan ketakutan padamu agar tidak ada lagi kejadian seperti ini”
sebuah pembelajaran dari masa lalu”
saya :”lantas apa yang harus saya lakukan untukmu?”
raden tersenyum, tanganya menepuk pundaku sesekali matanya memandang sekeliling kami, dan secara tidak sadar saya sudah berada didalam kamar hotel.
mata saya berkunang2 entah efek dari apa hingga membuat sensasi pusing dikepalaku, hening… suasana yang hening, raden tampak duduk bersila didepaku sambil memejamkan mata, dan secara otomatis otak saya mem flash back kejadian tadi,
mencoba membuat kesimpulan dari asumsi saya sebelumnya, dan tiba2 saya teringat sesuatu yang sangat penting.
saya : “Risa ……. “
tanpa membuang waktu saya beranjak menuju pintu.. klekkk.. kleekkk
saya :”kenapa kamu masih menahanku??” tanyaku kepada raden yang masih bersila, kali ini tubuhnya mengambang dengan jarak 30cm dari lantai..
raden :”gadismu tidak apa2, kami hanya membuatnya tidur sebentar, bukanya kamu tadi punya satu pertanyaan??”
saya hanya mengangguk, saya tidak tau kenapa tapi saya jadi mempercayai raden.
“doakan kami… agar tidak ada lagi dendam, agar kami bisa pergi dari tempat ini, kami sudah menunggu lama orang sepertimu .. lama sekali, kami sudah terlalu lama menunggu hingga rasa dendam dan benci itu semakin menggunung”
saya mengangguk, saya paham apa yang dia rasakan.
raden berdiri, sambil melayang dia mendekatiku..
“jangan jadi manusia seperti yang saya tunjukan, terimakasih.. saya percayakan kepadamu, salah sawijining satrio piningit”
dan dalam sekejab… raden sudah hilang dari pandanganku….
saya memncoba membuka hendel pintu itu sekali lagi dan… klekk… berhasil, saya berlari menghambur menuju kamar risa yang bersebelahan dengan kamarku,blarrrr saya malah menabrak pintu yang terbuat dari kayu tebal itu sampai menimbulkan suar yang keras,
“siapaaa??” sebuah suara menyaut, risa ya itu suara risa, sejenak saya menghela nafas lega karena tidak terjadi apa2 denganya,
“aku nduk!, bukain pintu cepet!!” seruku dari luar, dan begitu pintu itu terbuka tampak wajah risa yang terlihat kebingungan,
“kenapa mas? hoammm.. kayaknya aku jatoh dari kasur deh, tapi kok bisa2nya gak bangun yak?, malah tidur dilantai tadi hehe” detik itu juga saya jadi ikut bingung antara senang karena risa sama sekali tidak apa2, bahkan tidak mengingat kejadian menakutkan itu, atau harus jengkel dan sebel melihat wajah tanpa dosanya setelah apa yang saya alami malam itu.
dan yang mengherankan adalah peristiwa yang saya rasakan seolah memakan waktu seharian itu tidak mengubah waktu, apakah waktu berhenti??
wallahuallam, Tuhan benar2 terlalu baik atau sedang mengutuku dengan hal aneh yang terjadi seperti barusan, seiring berjalanya waktu saya mulai mengerti dengan apa yang terjadi padaku, misteri demi misteri akan terpecahkan seiring pendewasaan saya,
ini seperti mengisi teka teki silang, setiap kolom akan saling berhubungan untuk mendapatkan jawaban yang hakiki, cerita ini akan terus berlanjut sampai peristiwa terakhir yang akan saya alami dihidup saya saat ini, yang jelas peristiwa pada malam itu akan selalu saya ingat.
dan akhirnya malam itu saya tidur sekamar dengan risa dan harus rela istirahat diatas sofa yang ada disebelah tempat tidurnya.
benar2 malam menakutkan yang tidak akan pernah saya lupakan, tapi kalian tau? kejadian menakutkan lainya terjadi pada pagi hari saat kami check out dari hotel angker itu,
kejadianya adalah saya harus membayar ganti rugi kasur yang saya rusak semalam saat bertemu raden dalam wujud seramnya, dan yang paling menakutkan lagi adalah ocehan risa yang tidak henti2nya bertanya kenapa saya bisa sampai merusak kasur itu,
“iki mergo kahanan nduk -_-“, ucapku asal dalam bahasa jawa unuk menghindari pertanyaan2 lain yang pasti terlontar dari mulut bawelnya.
setelah check out kami melanjutkan perjalanan ke jakarta, dan semenjak menginap di hotel itu saya akan lebih selekif dalam memilih hotel kalau ingin menginap lagi.


Sumber Kaskus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosial Media Terbaik
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Follow Me
Profil Fafa Media di Instagram
Profil Fafa Media di Instagram

Artikel Terbaru