100 Tahun Setelah Aku Mati ( Bagian 39 Jawadwipa )



makhluk itu keluar dari dalam kasur, kakinya panjang sebelah membuat jalanya terpincang dan mendekatiku yang perlahan melangkah mundur, terdapat kesenjangan energi

dari makhluk satu ini dibanding puluhan atau mungkin ratusan makhluk halus yang menjadi penghuni disini, yang satu ini benar2 kuat,umurnya mungkin sudah sangat tua,

tidak jelas apakah dia negatif atau sebaliknya, situasi saya benar2 terpojok dimana saya dikepung didalam kamar bersama makhluk kuat yang jelas memiliki pengikut

banyak, sedangkan dikamar sebelah mungkin risa sedang menjerit2 ketakutan karena terror semacam ini, bulu kuduk saya merinding, danudara disekitar saya menjadi sangat



dingin, jantung saya semakin berdetak kencang saat makhluk ini semakin dekat sambil tanganya berusaha menggapai2.
dia samasekali tidak berbicara, dia hanya mengerang dan seperti menahan sakit.
saya meraih dayly bag yang berada di samping saya, dan buru2 mencari cincin pemberian kyai, sial saya benar2 tidak berkutik, dia sungguh sangat kuat..
“pergi!!, apa yang kalian inginkan???” saya berusaha berkomunikasi denganya,
lagi2 dia tidak menjawab, dia hanya mengerang dengan suara parau, saya menoleh kebelakang karena mendengar panggilan, saya menoleh kejendela dan dibalik kaca jendela

belasan sosok yang tergantung tadi sudah menempel dan menggedor2 kaca, seolah mereka ingin merrangsek masuk secara bersamaan.
beggggg.. sosok yang saya takutkan memegang pundaku,
“hyaaaa!!!!” saya memberontak sambil membaca amalan penangkis, dan…. percuma, sama sekali percuma dia malah melanjutkan bacaan ayat kursi yang saya lafalkan,
“sssssghhhh farki!! sakha sabhi tshaa!!” sebuah ucapan jelas tapi saya tidak tau artinya, makhluk itu berbicara dengan bahasa yang sama sekali tidak saya mengerti,
“syikha farsss!!, kashhh hull!!” dia berseru,lagi2 dengan bahasa yang tidak saya mengerti..
..
dia melemahkan pegenganya, dan bettthhhh….. saya melepaskan diri dari peganganya, bagian pundaku yang dipegangnya terasa panas sekali, saya berlari menerobosnya

dan.. saya malah terhuyung kebelakang.. ahhhh sakit sekali, kepala saya terbentur pinggiran meja..
saya berusaha berdiri..
“kenapa?? apa yang kalian mau??”




“tolong… tolong… tolong” suara ramai dengan nada sendu terdengar dari luar jendela, makhluk2 diluar berteriak minta tolong, sedangkan sosok didepanku masih

mengerang2 dan meracauu dengan bahasa yang sama sekali tidak bisa saya artikan..
saya merasakan hawa kesedihan dan ketakutan, bukan berasal dari saya, tapi dari sluruh makhluk itu, mereka tampak ketakutan dan kesakitan, saya menatap sosok

mengerikan didepanku, dia berhenti meracau dan melihatku dengan sorot mata yang aneh, cukup sulit menjelaskanya pada kalian saya cuma bisa memahami, bahwa mereka tidak

bermaksud buruk..
hmmmm….
saya mengheningkan cipta, mencoba menekan emosi dan meningkatkan kepekaan indra saya, makhluk itu menyentuh pundak saya sekali lagi, kali iini dengan pelan..
bulu kuduk saya merinding kembali, seketika saya merasakan sensasi dingin disekujur tulang saya, saya menutup mata dan membaca beberapa doa, saya memohon petunjuk dan

perlindungan kepada Allah, dan begitu membuka mata makhluk itu masih ada, ada sebuah senyum yang tersungging dibibirnya,
saya mengajaknya berkomunikasi kembali
.
saya :”siapa kamu? dan mereka? kenapa menemuiku??”
“namaku …… (tidak bisa disebutkan), kami mau memberitahumu tentang rasa sakit”
saya :”rasa sakit???”
…… :”yaa.. rasa sakit.. dari mereka, dan dariku… paling tidak sisa2 dari rasa sakit semasa kami benar2 hidup”
saya :”kalian bukan manusia, kalian belum pernah jadi manusia”
……. :”yaa, kami adalah setengah dari mereka yang pernah bernar2 hidup, bukan ruh, kami hanya menyerupai mereka”
saya :”lalu ada kenapa kepadaku kalian menunjukan itu?”
…… :”untuk mengajarimu”
saya :”apa untungnya bagi kalian? saya tidak akan membuat perjanjian dengan kalian!”

…… :”kami tidak akan membuat perjanjian denganmu, kamihanya menunjukan pembelajaran untuk kalian yang masih hidup, akan kubawa kamu ke masa lalu dimana negeri ini

adalah negeri yang kaya tapi miskin, negeri yang haus pertumpahan darah, negeri yang serakah, negeri yang dihuni manusia picik, negeri dengan rakyat yang sengaja

dibuat sengsara.
..
..
..
akan sulit kalian membayangkan hal ini,begitu kalian membacanya mungkin akan bilang, ini terlalu mengada2, tapi silahkan percaya atau tidak. saya benar2 mengalaminya..
saya merasakan ruangan berputar,seolah seperti perpindahan scene dalam film fantasi, ruangan yang awalnyadi kelilingi dinding beton kini berubah menjadi papan kayu dan

anyaman bambu, springbeth di ruangan itu berubah menjadi dipan bambu, dan perkakas-perkakas dapur lama..
sosok yang tadi kini sudah berubah bentuk menjadi sosok manusia normal
seorang yag mungkin saya taksir berumur 40 tahun, jenggot dan kumis menghiasi wajahnya,rambutnya panjang dan diikat dengan di gulung pada ujung rambutnya, dia memakai

alas kaki bakiak kayu, mengenakan celana entah model apa, saya bingung mendiskripsikan pakaian yang dia kenakan, dia mengenakan pakaian yang tidak tergambar pada buku2

sejarah yang sering kalian baca.
“apakah kamu lebih nyaman melihatku seperti ini??”
saya mengangguk sambil sesekali melirik samping kanan dan kiri, saya tidak akan mengurangi tingkatkewaspadaan saya, saya masih belum percaya denganya.
“ikuti saya, dan selamat datang di jawadwipa”
saya melangkah dan mengikuti kemana diapergi.. kami keluar rumah dan berjalan di sebuah jalan setapak, saya masih bisa mengingatnya sampai sekarang, tanah yang masih

basah seperti habis diguyur hujan, pohon2 tinggi masih menjulang di kanan kiri, semilir angin terasa dingin, karena saya berada di waktu sebelum fajar, dan yang tidak

bisa saya lupakan adalah bau anyir darah di tempat itu…
..
kami masih berjalan cukup jauh, dan tidak ada satu katapun terucap dari kami, saya sebisa mungkin diam sambil menganalisa kejadian ini.
di jalan kami benyak berpapasan dengan orang, mereka terlihat seperti prajurit dengan warna pakaian serba hitam, beberapa dari mereka menunggang kuda yang menarik

sebuah gerobak dengan roda kayu tanpa ban..grobak2 itu mengangkut hasil bumi seperti gabah,kelapa,kapuk,palawija dll mereka membawa dengan jumlah besar..
mereka mengabaikanku, karena saya disini menjadi tak kasat mata, tapi berbeda dengan raden, ya mungkin nama itu yang bisa saya sebutkan, karena orang2 yang menyapanya

memanggilnya dengan nama awal raden, dia seperti orang yang sangat dihormati disini..
“ini yang pertama,negeri yang kaya tapi miskin” dia berucap sambil menoleh kearahku yang dibelakangnya..
saya :”apa maksudmu??”
raden :”kamu melihat hasil bumi itu, bahan pokok itu?”
saya :”ya saya melihatnya”
raden :”kaya bukan?, bahkan saking banyaknya harus ditarik menggunakan kuda untuk membawanya”
saya :”apa maksudmu??”
raden :”kamu melihat hasil bumi itu, bahan pokok itu?”
saya :”ya saya melihatnya”
raden :”kaya bukan?, bahkan saking banyaknya harus ditarik menggunakan kuda untuk membawanya”
Saya :”lalu dimana salahnya?”
raden :”kamu akan segera tau”
suaranya terdengar parau, saya masih berfikir mengenai tujuanya mengajaku kesini, dan apa kepentingan mereka menunjukanya padaku,,
mungkin sekitar 1 km kami berjalan dan sampailah kami di sebuah perkampungan.
sebuah gapura kecil menjadi tanda masuk perkampungan itu, saya melihat sebuah prasasti yang tidaj dapat saya baca,
aksara yang digunakan jauh berbeda dengan aksara jawa yang sering saya lihat, bahasa yang digunakan pun sangat berbeda dengan percakapan orang sunda maupun jawa,
pandangan saya menerawang melihat perkampungan itu, di kanan kirinya terlihat ladang dan sawah yang sudah selesai panen, saya menelisik ke sistem irigasi yang dibuat

baik, bahkan pada jaman itu masyarakat sudah punya pengetahuan tentang irigasi,
saya memandang rumah2 yang terbuat dari kayu yang berjajar di diperkampungan itu, saya dan raden berkeliling perkampungan dan berjumpa beberapa dari warga yang tampak ketakutan melihat raden, mereka berlutut dengan setengah berjongkok, dan raden hanya diam tanpa sedikitpun melirik kearah mereka yang bersimpuh di kanan kirinya,
saya mengambil kesimpulan ini adalah era kerajaan hindu, terlihat dari bangunan pure dan sistem tata rumah yang di bedakan berdasarkan kasta,
“kamu penguasa disini?” saya menanyakan pertanyaan pertama..
raden :”ya, tapi saya keturunan sudra”
sudra?? setau saya sudra adalah golongan terendah dalam sistem masyarakat kasta…
“lihat itu”
raden menunjuk bangunan tanpa atap yan beralas ubin batu yang luas, dan diatasnya ditaruh hasil bumi yang sangat banyak menumpuk, saya melihat ini seperti sebuah

lumbung pangan..
saya :”apa itu??”
raden :”inilah yang saya maksud, kaya tapi miskin”
..
..
saya memperhatikan beberapa emban kuli panggul memasukan bahan pangan itu ke grobak2 yang siap ditarik kuda..
“kerajaan sedang menghadapi perang, utk meluaskan wilayah ke daerah lain, demi keegoisan seseorang masyarakat kampung harus menderita, mereka diharudkan membayar upeti yang sangat tinggi untuk peperangan yang konyol, mereka harus menyerahkan prmuda untuk dijadikan prajurit dabnputri2 mereka juga harus direlakan menjadi pecun dan pelayan, mereka menyebut kebijakan, tapi saya melihat ini adalah ketamakan dari penguasa”


Sumber Kaskus

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosial Media Terbaik
Platform Pengiriman Pesan Instan
Platform Sosial Media

Follow Me
Profil Fafa Media di Instagram
Profil Fafa Media di Instagram

Artikel Terbaru